Cek Market Crypto Hari Ini:
Bittime - Ethereum Sharding adalah teknik penyebaran data besar di blockchain. Untuk memahami apa itu Ethereum Sharding, ada baiknya memahami pengertian Blockchain dan Ethereum terlebih dahulu sebagaimana diuraikan berikut ini.
Apa itu Blockchain dan Ethereum?
Blockchain adalah teknologi yang memungkinkan pencatatan dan penyimpanan data secara terdistribusi, transparan, dan aman. Data yang disimpan di blockchain disebut sebagai blok, yang saling terhubung melalui kriptografi. Setiap blok berisi informasi tentang transaksi yang terjadi di jaringan, seperti pengirim, penerima, jumlah, waktu, dan lain-lain.
Ethereum adalah salah satu platform blockchain terpopuler yang mendukung pembuatan dan pengoperasian aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kontrak pintar. DApps adalah aplikasi yang berjalan di atas jaringan peer-to-peer tanpa perantara, sedangkan kontrak pintar adalah program yang mengeksekusi perjanjian secara otomatis berdasarkan kondisi yang telah ditentukan.
Mengapa Blockchain Perlu Skalabilitas?
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh blockchain adalah skalabilitas, yaitu kemampuan untuk menangani jumlah transaksi yang besar dan meningkat. Saat ini, blockchain seperti Bitcoin dan Ethereum memiliki batasan dalam hal kecepatan dan kapasitas transaksi. Misalnya, Bitcoin hanya dapat memproses sekitar 7 transaksi per detik (TPS), sedangkan Ethereum sekitar 15 TPS. Bandingkan dengan sistem pembayaran terpusat seperti Visa, yang dapat menangani hingga 24.000 TPS.
Skalabilitas blockchain sangat penting untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dari pengguna dan pengembang dApps. Jika blockchain tidak dapat memproses transaksi dengan cepat dan efisien, maka akan terjadi kemacetan jaringan, biaya transaksi yang tinggi, dan pengalaman pengguna yang buruk. Oleh karena itu, banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan skalabilitas blockchain, salah satunya adalah sharding.
Baca Juga Cara Beli Crypto:
Apa itu Sharding dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Sharding adalah teknik membagi-bagi database blockchain besar menjadi partisi yang lebih kecil yang disebut sebagai pecahan (shard). Tujuannya adalah untuk menyebarkan beban kerja komputasi dan penyimpanan di seluruh jaringan peer-to-peer. Dengan sharding, setiap node hanya perlu memvalidasi dan menyimpan sebagian data, bukan seluruh data. Hal ini dapat meningkatkan kecepatan dan kapasitas transaksi, serta mengurangi persyaratan sumber daya untuk menjalankan node.
Dalam konteks Ethereum, sharding akan bekerja secara sinergis dengan solusi layer-2, yaitu rollups. Rollups adalah teknik yang memindahkan sebagian besar komputasi dan penyimpanan data dari layer-1 (mainnet) ke layer-2 (sidechain), sehingga mengurangi beban pada mainnet. Rollups juga menggunakan teknik kriptografi seperti zero-knowledge proofs untuk membuktikan keabsahan transaksi di layer-2 tanpa perlu memverifikasinya di layer-1.
Dengan kombinasi sharding dan rollups, Ethereum dapat meningkatkan skalabilitasnya secara signifikan. Menurut perkiraan Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, sharding dapat meningkatkan kapasitas transaksi Ethereum hingga 100 kali lipat, sedangkan rollups dapat meningkatkan hingga 1000 kali lipat. Dengan demikian, Ethereum dapat mencapai hingga 100.000 TPS, yang jauh melampaui sistem pembayaran terpusat.
Apa Keuntungan dan Tantangan Sharding?
Sharding memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
- Meningkatkan skalabilitas dan kinerja jaringan, dengan mempercepat proses validasi dan propagasi blok, serta mengurangi waktu konfirmasi transaksi.
- Meningkatkan desentralisasi dan keamanan jaringan, dengan memperluas partisipasi node dan mengurangi risiko serangan 51% atau serangan lainnya.
- Meningkatkan efisiensi dan hemat biaya, dengan mengurangi persyaratan sumber daya untuk menjalankan node, seperti bandwidth, penyimpanan, dan daya komputasi.
Namun, sharding juga memiliki beberapa tantangan, antara lain:
- Menjaga konsistensi dan sinkronisasi data antara shard, dengan mengatasi masalah seperti double-spending, fork, atau replay attack.
- Menjaga komunikasi dan koordinasi antara shard, dengan mengatasi masalah seperti latency, overhead, atau cross-shard transaction.
- Menjaga fleksibilitas dan kompatibilitas jaringan, dengan mengatasi masalah seperti upgrade, interoperabilitas, atau backward compatibility.
Cek Harga Crypto Hari Ini:
Kapan Sharding Diluncurkan di Ethereum?
Sharding adalah salah satu bagian dari rencana upgrade Ethereum 2.0, yang bertujuan untuk meningkatkan skalabilitas, keamanan, dan efisiensi jaringan Ethereum. Rencana upgrade ini terdiri dari beberapa fase, yaitu:
- Fase 0: Peluncuran Beacon Chain, yang merupakan rantai induk yang mengkoordinasikan shard dan validator, serta mengadopsi mekanisme konsensus proof-of-stake (PoS).
- Fase 1: Peluncuran 64 shard chain, yang merupakan rantai anak yang memproses dan menyimpan data transaksi, namun belum mendukung eksekusi smart contract.
- Fase 1.5: Penggabungan Ethereum 1.0 dan Ethereum 2.0, yang akan mengakhiri mekanisme konsensus proof-of-work (PoW) dan menjadikan Ethereum 1.0 sebagai salah satu shard chain di Ethereum 2.0.
- Fase 2: Peluncuran eksekusi smart contract di shard chain, yang akan memungkinkan dApps untuk berjalan di seluruh jaringan Ethereum 2.0.
Fase 0 telah diluncurkan pada Desember 2020, sedangkan fase 1 diperkirakan akan diluncurkan pada tahun 2022. Fase 1.5 dan fase 2 masih dalam tahap pengembangan dan belum ada jadwal pasti peluncurannya.
Kesimpulan
Sharding adalah solusi skalabilitas untuk blockchain, yang membagi jaringan menjadi partisi yang lebih kecil dan saling terhubung. Dengan sharding, blockchain dapat meningkatkan kecepatan dan kapasitas transaksi, serta mengurangi beban kerja dan sumber daya node. Sharding adalah bagian dari rencana upgrade Ethereum 2.0, yang akan bekerja secara sinergis dengan solusi layer-2, yaitu rollups. Dengan demikian, Ethereum dapat menjadi platform blockchain yang lebih skalabel, aman, dan efisien untuk semua orang.
Cara Beli Crypto di Bittime
Kamu bisa beli dan jual aset crypto dengan cara yang mudah dan aman melalui Bittime. Bittime adalah satu aplikasi kripto terbaik di Indonesia yang sudah resmi terdaftar Bappebti.
Untuk bisa beli aset crypto di Bittime, pastikan kamu telah melakukan registrasi dan menyelesaikan verifikasi identitas. Selain itu, pastikan juga kalau kamu punya saldo yang cukup dengan melakukan deposit sejumlah dana ke wallet. Sekadar informasi, minimal pembelian aset di Bittime adalah Rp10.000. Setelah itu, barulah kamu bisa melakukan pembelian aset crypto di aplikasi. Belajar Panduan Lengkap Cara Beli Crypto di Bittime.
Pantau pergerakan grafik harga Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL) dan kripto lainnya untuk mengetahui tren crypto market hari ini secara real-time di Bittime.
Baca Juga:
Kisah Sejarah Ethereum: Bagaimana Ethereum Menjadi Populer
Apa Itu Sharding? Simak Pengertian hingga Keuntungannya
Pengertian Konsep Shard: Pandangan Komprehensif tentang Sharding dalam Blockchain
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Bittime tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Komentar
0 komentar
Harap masuk untuk memberikan komentar.