Bittime – Dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi) mengalami terobosan teknologi signifikan berkat hadirnya Ethereum rollup. Solusi Layer-2 (L2) ini memungkinkan penggunaan ekosistem Ethereum yang lebih murah, cepat, dan efisien.
Teknologi ini hadir untuk mengatasi kemacetan jaringan yang telah lama menjadi momok bagi Ethereum.
Omni Network, altcoin berbasis Ethereum yang baru, bertujuan untuk menyederhanakan solusi L2 ini lebih jauh dengan menggabungkan berbagai rollup ke dalam jaringan tunggal.
Namun, terlepas dari perannya yang berharga untuk masa depan DeFi, pasar belum memberikan respons positif terhadap peluncuran token OMNI.
OMNI Menargetkan Interoperabilitas Jaringan Ethereum Meski Awal Terjal
Pencatatan di bursa kripto ternama kerap menjadi katalis bagi koin baru untuk melesat. Hal ini memberikan eksposur proyek kepada ribuan investor yang sebelumnya tidak dapat, atau bahkan tidak mau, membeli koin melalui metode yang lebih rumit, seperti menggunakan bursa terdesentralisasi.
Coinbase dan Binance adalah dua bursa kripto terbesar saat ini. Jadi, mengapa peluncuran OMNI di platform tersebut justru disambut dengan penurunan harga yang nyaris instan?
Jatuhnya Harga OMNI setelah Listing
Harga OMNI anjlok hampir 40% dalam waktu kurang dari 12 jam setelah diluncurkan di Coinbase dan Binance kemarin.
Salah satu teori yang membingungkan terkait performa buruk koin ini adalah adanya beberapa proyek kripto lain yang memiliki nama identik, bahkan beberapa di antaranya terdaftar di Binance.
Apeseknya, setelah mendengar berita peluncuran token Omni yang baru, beberapa trader yang kurang beruntung langsung menyerbu bursa tersebut dan melambungkan harga token OMNI lama lebih dari 1.000%.
Sayangnya bagi mereka, teknologi Omni Layer yang lama kurang lebih sudah usang setelah bertahun-tahun mengalami pasang surut.
Meskipun pencatatan token sering dikaitkan dengan kenaikan harga yang tajam, hal sebaliknya juga bisa terjadi.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Melonjak Jelang Halving: Prediksi Analis tentang Potensi Kejutan Pasokan
OMNI Anjlok karena Harga Terlalu Tinggi?
Ketika akses luas ke suatu koin diberikan untuk pertama kalinya, investor mungkin menilai harga peluncurannya terlalu tinggi dan menetapkannya pada harga yang jauh lebih rendah sebelum likuiditas benar-benar terbentuk.
Ditambah lagi dengan kondisi pasar secara keseluruhan yang sedang lesu, di mana aset-aset paling stabil seperti BTC dan Ethereum pun turun lebih dari 10%, tidak mengherankan jika koin baru seperti OMNI harus menanggung beban penuh dari volatilitas pasar.
Terlepas dari pembukaan yang penuh gejolak, Omni Network mungkin dapat membawa kesatuan yang sangat dibutuhkan ke dunia Ethereum L2. Ini adalah sesuatu yang terus dikembangkan dan ditingkatkan oleh para pengembangnya.
Analisa dan Prospek Masa Depan Omni Network
Peluncuran token OMNI yang kurang mulus ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan proyek. Mari kita analisa beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.
1. Dampak Kebingungan Nama
Keberadaan proyek lain dengan nama serupa berdampak negatif pada peluncuran OMNI. Ini mungkin membuat investor bingung dan ragu untuk berinvestasi.
Omni Network perlu mengambil langkah tegas untuk membedakan diri dari proyek-proyek tersebut, seperti memperkuat branding dan meningkatkan awareness di kalangan investor kripto.
2. Kondisi Pasar Kripto yang Lesu
Harga keseluruhan pasar kripto sedang mengalami penurunan. Hal ini turut mempengaruhi performa OMNI. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam situasi seperti ini dan menghindari mengambil risiko pada aset-aset baru.
Baca Juga: Dampak Bitcoin Halving Terhadap Altcoin Sebesar Apa?
3. Potensi Positif Omni Network
Terlepas dari awal yang sulit, Omni Network memiliki potensi untuk berkembang di masa depan. Teknologi rollup yang diusungnya menawarkan solusi yang berharga untuk mengatasi kemacetan jaringan Ethereum dan meningkatkan skalabilitas.
- Interoperabilitas L2: Omni Network bertujuan untuk menyatukan berbagai solusi rollup ke dalam jaringan tunggal, sehingga memudahkan interoperabilitas di antara mereka.
- Tim Pengembang yang Kompeten: Omni Network didukung oleh tim pengembang berpengalaman di bidang blockchain. Ini menjadi indikator positif bagi pengembangan proyek di masa depan.
- Perbaikan dan Pembaharuan: Para pengembang Omni Network berkomitmen untuk terus memperbaiki dan memperbaharui teknologi mereka. Hal ini penting untuk bersaing dengan proyek lain di ranah Ethereum L2.
Baca Juga Cara Beli Crypto:
Kesimpulan
Peluncuran token OMNI tidak berjalan sesuai harapan. Namun, terlalu dini untuk menilai kegagalan proyek ini. Omni Network perlu mengatasi tantangan yang ada, seperti kebingungan nama dan kondisi pasar yang lesu.
Fokus pada pengembangan teknologi, peningkatan branding, dan pemilihan waktu yang tepat untuk listing di bursa kripto dapat membantu Omni Network bangkit dan meraih kesuksesan di masa depan.
Investor yang tertarik dengan proyek ini perlu terus mengikuti perkembangan dan melakukan analisa mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Cara Beli Crypto di Bittime
Kamu bisa beli dan jual aset crypto dengan cara yang mudah dan aman melalui Bittime. Bittime adalah satu aplikasi kripto terbaik di Indonesia yang sudah resmi terdaftar Bappebti.
Untuk bisa beli aset crypto di Bittime, pastikan kamu telah melakukan registrasi dan menyelesaikan verifikasi identitas. Selain itu, pastikan juga kalau kamu punya saldo yang cukup dengan melakukan deposit sejumlah dana ke wallet. Sekadar informasi, minimal pembelian aset di Bittime adalah Rp10.000. Setelah itu, barulah kamu bisa melakukan pembelian aset crypto di aplikasi. Belajar Panduan Lengkap Cara Beli Crypto di Bittime.
Pantau pergerakan grafik harga Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL) dan kripto lainnya untuk mengetahui tren crypto market hari ini secara real-time di Bittime.
Baca Juga:
Omni Token ($OMNI): Akankah Token Baru Ini Lampaui $50 dalam Debutnya?
Peluncuran Token OMNI Tercorengi oleh Aksi Rug Pull Token Palsu
Harga OMNI Jatuh 44% Pasca Airdrop, Tapi Mungkin Bukan karena Alasan yang Anda Pikirkan
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Bittime tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Komentar
0 komentar
Harap masuk untuk memberikan komentar.